Taujihat
Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri
Menjelang Liburan Maulid
(Malam Sabtu, 10 Rabiul Awal 1435 H)
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى أله وصحبه ومن والاه. أما بعد
Anak-anakku sekalian…
Saat tiba malam pulangan seperti saat ini, sebetulnya sangat banyak sekali
uneg-uneg
yang ingin saya tumpahkan kepada kalian. Seperti seorang ibu yang
hendak melepaskan anak bocahnya menembus kerumunan orang atau
menyeberang jalan, sendiri, tanpa pengawasan, dan tanpa penjagaan. Tentu
ada banyak sekali kekhawatiran yang menguap dan membesar, serta
menggelembung di dada.
Andai bukan karena tujuan-tujuan jangka panjang, sebenarnya hati
Sidogiri mungkin akan lebih tenang dan tenteram jika meletakkan kalian
di sebuah menara gading yang membuat kalian hanya bisa menengok ke
bawah, tapi tak bisa menyentuhnya. Atau, di sebuah rumah kaca yang
membuat kalian bisa melihat segalanya, tapi tak bisa terlibat di
dalamnya.
Tapi tidak. Sidogiri tidak berpikir seperti itu. Kalian dipersiapkan
bukan hanya untuk menyelamatkan diri sendiri. Sidogiri adalah kawah
penempaan agar kalian juga bisa menyelamatkan orang lain. Agar kalian
datang seperti Khalid bin Walid ke Persia atau Thoriq bin Ziyad ke
Andalusia. Kalian datang untuk mengubah sesuatu, dan melestarikan
sesuatu yang lain. Inilah kalian!
Kita harus menyadari dalam setiap langkah kita, bahwa dunia sedang
dikendalikan oleh pandangan hidup Barat. Sejak berabad-abad lalu,
petinggi-petinggi Barat sudah berkonspirasi untuk mewujudkan tatanan
hidup yang mereka sebut sebagai Tatatan Hidup Baru. Yaitu, tatanan hidup
dalam satu kendali, tanpa terpecah ke dalam agama-agama, dan
batas-batas teritorial negara.
Karena itulah, Barat membuat PBB, organisasi bangsa-bangsa dunia yang
kenyataannya hanya membela kepentingan Amerika, Israel dan
negara-negara pemilik hak veto saja. Karena itu pula, dunia sekarang
sedang bergerak secara ramai-ramai menuju globalisasi, di mana
sekat-sekat negara sudah hendak dihapus sedikit demi sedikit. Karena itu
pula, di tengah-tengah kita muncul banyak sekali pandangan hidup
liberal yang menganggap semua agama itu sama.
Kecenderungan yang terakhir ini merupakan tantangan nyata untuk kaum
santri. Untuk itulah kita berada di Sidogiri selama bertahun-tahun. Saat
ini, orang yang membela atau menonjol-nonjolkan agama sudah dipandang
dengan sinis. Jika ada orang yang tampil membela agama, maka akan
dicibir, dianggap ekstrem, fundamentalis, tidak sesuai dengan Pancasila,
tidak sesuai dengan kemajemukan Indonesia dan semacamnya.
Tidak sedikit orang Islam, bahkan tokoh-tokoh Islam, yang menganggap
agama bukan urusan yang terlalu penting untuk dipermasalahkan. Toh, pada
akhirnya, kata mereka, semua agama itu sama, sama-sama mengajarkan
kebaikan dan menjadi jalan menuju tuhan. Sekarang, pandangan seperti ini
bukan hanya saya dengar dari para akademisi jebolan Barat, tapi juga
sudah mulai saya dengar dari orang-orang jebolan pesantren. Padahal,
pandangan semacam ini merupakan bentuk kekafiran yang nyata; merupakan
bentuk pengingkaran yang sangat ekstrem terhadap kebenaran agama Islam,
dan kesesatan agama lain.
Jadi, kalian dilepas untuk berlibur sementara saat ini, atau kalian dilepas oleh Sidogiri setelah
boyong
suatu saat nanti, bukan seperti narapidana yang dilepas untuk menikmati
udara bebas. Kalian dilepas sebagai para pendekar yang turun gunung.
Kalian dilepas untuk mengubah keadaan, atau minimal menghambat arus dan
kecenderungan yang menggerogoti ajaran-ajaran agama kita. Kalaupun
misalnya kalian memahami liburan ini sebagai burung yang lepas dari
sangkar, maka jadilah seperti burung merpati, yang meskipun lepas di
alam bebas, tetap selalu terikat dan merindukan sangkarnya.
Anak-anakku sekalian… Tidak jadi soal, jika masa liburan ini kalian
pahami sebagai masa beristirahat sebentar untuk melepas penat. Bukankah
dalam agama kita memang dianjurkan untuk beristirahat sebentar menjelang
siang, agar kita bisa beraktivitas dengan lebih semangat dan penuh
konsentrasi di waktu siang hingga menjelang petang. Bukankah dalam
kitab-kitab kita memang dianjurkan beristirahat di separuh awal malam,
agar kita bisa bangun dan beribadah dengan khusyuk di tengah atau akhir
malam.
Namun demikian, masa istirahat harus dipahami sebagai masa sela untuk
menyambut aktivitas berikutnya dengan energi yang segar. Masa istirahat
bukan hidangan yang disajikan untuk dinikmati, tapi kesempatan yang
diberikan untuk digunakan. Oleh karena itu, gunakanlah masa libur itu
dengan sebaik mungkin untuk menyegarkan konsentrasi kalian di masa
kembalian, bukan malah menjadi pengganggu konsentrasi kalian ketika
sudah kembali lagi ke sini.
Maka, jangan sampai kalian larut dalam kesenangan-kesenangan negatif
ketika masa liburan. Kalian harus senantiasa menyadari bahwa kesenangan
negatif itu sangat mudah masuk, dan sangat sulit keluar. Sekali
kesenangan negatif itu merasuki hati kalian, maka akan menjadi candu
yang sangat sulit dilepaskan. Oleh karena itu, janganlah kalian
mencoba-coba kesenangan-kesenangan negatif itu semasa liburan nanti.
Anak-anakku sekalian… Kalian tidak perlu berada di Sidogiri jika
hanya ingin hidup sejahtera untuk diri kalian sendiri. Sidogiri ini
adalah tempat orang-orang yang ingin hidup untuk melakukan sesuatu yang
bermanfaat bagi orang lain, bahkan rela sengsara demi hal itu. Dan,
manfaat yang dimaksud di sini bukan sekadar manfaat di dunia, tapi yang
lebih penting adalah manfaat dalam kehidupan akhirat nanti.
Untuk bisa memperbaiki orang lain, tentu saja hal pertama yang harus
kita lakukan adalah memperbaiki diri sendiri. Untuk menyelamatkan orang
lain dari godaan buruk akhir zaman, tentu saja kita sendiri harus
melatih diri terlebih dahulu untuk teguh dan tahan dalam menghadapi
godaan itu.
Masa libur ini adalah tes nyata bagi kalian untuk menjadi duta-duta
Sidogiri. Sangat mungkin kalian akan dihadapkan ke dalam banyak godaan.
Godaan media, godaan lingkungan, godaan hiburan, godaan kebebasan,
godaan kesenangan, godaan wanita dan lain sebagainya. Sejauh mana kalian
tahan, sejauh itu pula kalian siap menjadi generasi pesantren yang
mampu membawa panji perjuangan para Masyayikh di tengah-tengah
masyarakat.
Dulu, para Masyayikh kita dan para ulama di negeri ini, juga berada
di pesantren seperti kalian, merasakan pahit getir sebagai anak-anak
santri. Namun, berkat keteguhan, maka mereka bisa ikut mengubah
kecenderungan dan lingkungan masyarakat, bukannya ikut-ikutan berubah
karena arus kecenderungan dan lingkungan masyarakat. Kita ini adalah
para penerus mereka, tidak ada orang lain. Kalau bukan kita, sudah tidak
ada lagi orang lain yang bisa meneruskan jejak langkah dan mewarisi
perjuangan mereka. Semoga Allah memberikan keteguhan hati kepada kita
untuk meneladani keteguhan mereka.
Semoga Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk berkumpul
kembali di Sidogiri pada waktu-waktu yang akan datang. Meskipun kalian
merasa senang dengan liburan ini, semoga hati kalian masih terikat
dengan Sidogiri, rindu dengan senyumnya yang penuh arti.
Semoga doa para Masyayikh menyertai langkah kaki kalian besok pagi,
ketika bayang-bayang kalian mulai hilang dari pandangan kami. Semoga
pengaruh kitab-kitab yang kalian pelajari di sini mengalahkan pengaruh
handphone, internet, televisi dan media-media lain yang begitu semarak
saat ini.
Semoga kalian bisa menjadi anak-anak yang membuat hati orang tua jadi
sejuk. Dengan sikap dan tutur kata yang santun, dengan ibadah yang
tekun, dengan kemauan tinggi untuk berbakti dan membantu meringankan
beban orang tua di rumah. Amin ya Rabbal Alamin.
Sekian… Semoga kalian sampai di rumah dalam keadaan selamat dan bisa
kembali lagi ke sini dengan selamat, selamat tubuh kalian, juga selamat
hati kalian. Salam kami untuk ayah dan ibu kalian di rumah. Semoga
mereka senantiasa diberi kesehatan dan kemudahan dalam segala hal. Amin
ya Rabbal Alamin.